Jokowi PKI

LANJUTAN PROLOG
Jokowi Undercover- Bambang Tri ( account FaceBook )

Ibu Sudjiatmi adalah Ibu Tiri Jokowi

Ini adalah kunci kebohongan Jokowi berikutnya.
Beberapa kali Jokowi menyebut tiga tempat yang berbeda sebagai tempat kelahirannya.

Pertama, dia menyebutkan Bantaran Kali Pepe Munggung Manahan Solo sebagai tempat dia dilahirkan dan dibesarkan dalam suasana kemelaratan dan dianiaya pemerintahan Orde Baru dengan penggusuran rumah keluarganya sampai tiga kali tanpa ganti rugi.

Kedua, pada masa kampanye, untuk menarik simpati ummat Katolik di Solo, di Rumah Sakit Katolik Brayat Minulyo Solo, dia berkata dengan bangganya :
“Di rumah sakit inilah saya dilahirkan !”
Saya anjurkan pembaca untuk mempercayai Jokowi kali ini, sekaligus mewaspadai pernyataan penting Jokowi soal kelahirannya di Rumah Sakit Katolik ini.
Karena Rumah Sakit Katolik ini ada hubungannya dengan Ny X, ibu kandung Jokowi yang beragama Katolik dan juga merupakan ibu kandung dari tokoh muda Katolik Michael Bimo Putranto.

Ketiga, tanpa angin tanpa hujan, Ibu Sudjiatmi berkampanye di depan ribuan orang di desa basis PKI terkuat se Indonesia, desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali dengan orasi ala propagandis Gerwani :

“Di desa inilah Jokowi dilahirkan, saudara-saudara. Dari sinilah perjuangan akan kita mulai. Saya akan bergerilya dari pintu ke pintu untuk memenangkan Jokowi dan menjadikannya presiden !”

Tanyalah kepada semua ahli psikologi, tidak mungkin seorang Ibu Kandung berorasi politik dengan pilihan kalimat seperti itu untuk anak kesayangannya.
Seorang ibu kandung akan menyayangi puteranya sedemikian rupa, sehingga dia akan memilih puteranya tetap selamat lahir batin, tidak mungkin seorang ibu kandung tega mengkampanyekan anaknya sebagai simbol kebangkitan PKI seperti itu !

Reputasi desa Giriroto sebagai desa merah sudah demikian terkenal dan mengerikan, pembantaian oleh dan terhadap orang-orang PKI terjadi di sana pada tanggal 1 Oktober 1965 (oleh PKI) dan setelah kedatangan pasukan RPKAD beberapa hari berikutnya (gantian terjadi penjagalan terhadap orang-orang PKI yang belum melarikan diri dari Giriroto).

Seorang ibu kandung akan bersikap seperti Miyono, adik kandung Ibu Sudjiatmi sendiri, yang terang-terangan pernah menyatakan bahwa dia tidak setuju Jokowi mencalonkan diri sebagai presiden.

Miyono berkata bahwa sebaiknya Jokowi menyelesaikan amanat tugasnya sebagai gubernur DKI selama 5 tahun sesuai janjinya, dan tidak tergoda oleh ambisinya sendiri yang di luar batas.
Tapi apa daya, Jokowi adalah Jokowi dengan segala ambisi pribadinya yang tak kenal batas.
Sang Paman Miyono, pada hari yang sama dengan kampanye ala PKI Ibu Sudjiatmi itu, juga dipaksa Jokowi berpidato :
“Jokowi sudah mendapat wahyu Tuhan dan akan menjadi Presiden !”

Kita harus memaafkan Miyono dengan kata-kata yang menyamakan Jokowi dengan seorang Nabi penerima wahyu Tuhan itu, karena Miyono pasti ditekan Jokowi karena pernyataan keberatan soal Jokowi maju sebagai calon presiden itu.
Kalau Ibu Sudjiatmi adalah ibu kandung Jokowi, maka dia tidak akan tega mengeluarkan kata-kata yang bisa mengkaitkan Jokowi dengan memori kelam jahannam desa basis PKI itu, baik dalam posisi sebagai penyerang maupun posisi sebagai korban.

Di jaman Nabi Sulaiman, ada dua orang perempuan berebut anak. Nabi Sulaiman pura-pura akan memotong anak itu menjadi dua dan memberikan masing-masing potong kepada keduanya.
Sang Ibu palsu tidak kaget dan diam saja dengan gertakan Sulaiman itu.
Sang Ibu Kandung menjerit dan meminta agar Sulaiman memberikan bayi itu kepada Si Ibu Palsu, yang penting jangan sampai bayi itu mengalami sesuatu, apalagi sampai dipotong menjadi dua.
Sulaiman menghukum Ibu pendusta itu dan memberikan bayi itu kepada Ibu kandungnya yang telah terbukti kebenarannya sebagai ibu kandung yang rela berkorban apapun demi tidak terjadinya sesuatu bahaya sekecil apapun menimpa buah rahimnya.

Sekarang, perjuangan apa yang bisa dimulai dari desa Giriroto, yang bukan desa kelahiran Jokowi, tapi diklaim Jokowi, kecuali untuk menarik simpati jutaan eks PKI dan keluarganya di daerah segitiga emas merah PKI Klaten-Surakarta-Boyolali agar mencoblos Jokowi dengan janji tersamar : kita akan lanjutkan perjuangan bapak-bapak PKI kita yang belum selesai ?

Bukankah Jokowi selalu berkata bahwa Ibu Sudjiatmi adalah perempuan sederhana yang tidak faham politik samasekali dan hanya bisa berdzikir dan bersholat malam untuk mendoakan Jokowi agar jadi anak yang jujur senantiasa ?
Jawabnya hanya satu, Jokowi lah yang sengaja “menjual” Ibu Sudjiatmi di Giriroto, yang memang tempat kelahiran dan tempat kolega-kolega lama Ibu Sudjiatmi dalam urusan-urusan PKI.
Karena bukan ibu kandung, maka dalam tubuh Ibu Sudjiatmi tidak ada gen-gen keibuan yang akan membuatnya menolak pemaksaan kehendak Jokowi yang kurangajar tersebut, seperti gen-gen Ibu Kandung dalam cerita jaman Nabi Sulaiman tadi.

Jokowi PKI
Selanjutnya, pembaca akan segera tahu bahwa Ibu Sudjiatmi memang ibu tiri Jokowi, berkat penuturan saksi hidup berikut ini.
Namanya Fz, putera seorang pensiunan marsekal yang dulu berpacaran dengan Hartanti, keponakan Ibu Sudjiatmi yang dulu tinggal di Pedan, Klaten, dan sekarang menjadi anggota DPRD Kota Surakarta dari PDIP untuk periode kedua.

Kesaksian Fz ini sungguh mengerikan, bahwa seluruh keluarga Ibu Sudjiatmi memang tersangkut PKI termasuk ayah Hartanti, yaitu almarhum Bapak Soemarto.
Yang paling penting adalah kisah bahwa sebelum kawin dengan Widjiatno bapak Jokowi, ibu Sudji sudah pernah menikah dengan seorang aktivis PKI pula di Solo, sekarang keluarga mantan suami Ibu Sudji itu mengelola hotel terkenal di Solo, Solo Inn.

Juga ada cerita dari kakak-kakak Hartanti, (kepada Fz) bahwa dulu Jokowi yang masih sekolah SMP sering main di Pedan, di rumah Bapak Soemarto. Jadi mereka (keluarga besar almarhum Bapak Soemarto) kenal Jokowi sudah gede, sudah bisa keluyuran dari Solo ke Pedan, dan Jokowi adalah anak bawaan Pak Widjiatno, suami kedua Ibu Sudjiatmi.

Inilah kisah cinta yang dituturkan Fz kepada saya :